Sabtu, 13 Oktober 2012

persamaan dan perbedaan antara Qurban Aqiqah



bismillahirrahmanirrahim.

kambingnya manis yah.....

alhamdulullah kemarin saya mengikuti kajian yang dibawakan oleh ustad shidiq Al jawi dan disitu diterangkan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan Qurban, tetapi di sesi tanya jawab ada beberapa orang yang menanyakan tentang hal hal yang berkaitan dengan aqiqah, maka saya ingin menuliskan kedua tema yang berbeda tersebut dalam satu rangkaian tulisan, kata demi kata, dan paragraf demi paragraf. peasaran???? jangan kemana mana, terusin dulu bacanya sampai habis.

Tentang

Qurban: Qurban secara bahasa yaitu uhddhiah atau juga dhahiyah yang artinya adalah Hewan sembelihan
sedangkan menurut istilah hukum syara' yaitu ibadah yang dilakukan oleh ummat islam berupa pemotongan hewan kurban yang dilakukan pada tanggal antara 10 dzulhijjah(yaum/hari hahar) sampai tanggal 11, 12, 13 dzulhijjah (yaum/hari tasyrik)

dalil dalil tentang berkurban antara lain:
  1. maka dirikanlah shalat karena tuhanmu, dan berkurbanlah (Al-kautsar:2)
  2. barang siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan mampu tetapi dia tidak berkurban, maka janganlah sekali kali mendekati tempat shalat ied kami (HR AHMAD, IBN MAJJAH)
  3. dari shahabat zaid bin arqam, bahwasanya ia bertanya kepada Rosul SAW, Ya Rosullullah, apakah sesunggunya Qurban itu???, lalu Rosul menjawab:Qurban adalah sunnahnya bapak kalian (Ibrahim)Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” HR. Ahmad dan ibn Majah
  4. “Kami berkurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang. “ HR. Muslim, Abu Dawud dan Thirmidzi)

Hukum Menunaikan Qurban:
  •  Mayoritas ulama dari kalangan Shahabat, Thabi'in, tabiut tabi’in, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan bahwa hukum kurban adalah sunnah muakkadah (utama), dan tidak ada seorangpun yang menyatakan Wajib, kecuali Abu Hanifah (tabi’in). Ibnu Hazm menyatakan: “Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa kurban itu wajib.
Waktu pelaksanaan Qurban:

  • Awal Waktu: Waktu untuk menyembelih kurban bisa di 'awal waktu' yaitu setelah salat Id langsung dan tidak menunggu hingga selesai khutbah. Bila di sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan salat Id, maka waktunya diperkirakan dengan ukuran salat Id. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum waktunya maka tidak sah dan wajib menggantinya .
Dalilnya:

  1. Hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى “Barangsiapa yang salat seperti salat kami dan menyembelih hewan kurban seperti kami, maka telah benar kurbannya. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum salat maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no. 1553) Hadits senada juga datang dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari (no. 5500) dan Muslim (no. 1552). 
  2. Hadits Al-Bara` riwayat Al-Bukhari (no. 5556) dan yang lainnya tentang kisah Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu yang menyembelih sebelum salat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu adalah kambing untuk (diambil) dagingnya saja.” Dalam lafadz lain (no. 5560) disebutkan: وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ شَيْءٌ “Barangsiapa yang menyembelih (sebelum salat), maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.”
  • Akhir Waktu: Waktu penyembelihan hewan kurban adalah 4 hari, hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya. Waktu penyembelihannya berakhir dengan tenggelamnya matahari di hari keempat yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Ini adalah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Al-Hasan Al-Bashri imam penduduk Bashrah, ‘Atha` bin Abi Rabah imam penduduk Makkah, Al-Auza’i imam penduduk Syam, Asy-Syafi’i imam fuqaha ahli hadits rahimahumullah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (2/319), Ibnu Taimiyah, Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/406, no. fatwa 8790), dan Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/411-412). Alasannya disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu sebagai berikut: 1. Hari-hari tersebut adalah hari-hari Mina. 2. Hari-hari tersebut adalah hari-hari tasyriq. 3. Hari-hari tersebut adalah hari-hari melempar jumrah. 4. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang diharamkan puasa padanya.
  •  Siang atau malam???:  Tidak ada khilafiah di kalangan ulama tentang kebolehan menyembelih kkurban di waktu pagi, siang, atau sore, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28).

    adapun tentang perbedaan pendapa didalamnya, Mereka hanya berbeda pendapat tentang menyembelih kurban di malam hari. Yang rajih adalah diperbolehkan, karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Ini adalah tarjih Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/413) dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/395, no. fatwa 9525). Yang dimakruhkan adalah tindakan-tindakan yang mengurangi sisi keafdhalannya, seperti kurang terkoordinasi pembagian dagingnya, dagingnya kurang segar, atau tidak dibagikan sama sekali. Adapun penyembelihannya tidak mengapa. Adapun ayat di atas (yang hanya menyebut hari-hari dan tidak menyebutkan malam), tidaklah menunjukkan persyaratan, namun hanya menunjukkan keafdhalan saja. Sedangkan hadits yang diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan arti: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih di malam hari.” Al-Haitsami rahimahullahu dalam Al-Majma’ (4/23) menyatakan: “Pada sanadnya ada Salman bin Abi Salamah Al-Janabizi, dia matruk.” Sehingga hadits ini dha’if jiddan (lemah sekali). Wallahu a’lam. (lihat Asy-Syarhul Kabir, 5/194)



    Aqiqah: menurut arti bahasa adalah memutus atau melubangi.
    sedangkan menurut istilah syara' adalah suatu sembelihan yang di sembelih atas nama Allah dikarenakan lahirnya seorang anak sebgai penebus atas anak tersebut.


    Dalil dalil terkait dengan Aqiqah:

    1. Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata : Rasululloh bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Hadist Shahih  Riwayat Bukhari)
    2. Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud)
    3. Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.”(Hadist Shahih Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah)
    4. “Setiap bayi itu tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih untuknya pada hari ketujuh dan dicukur kepalanya dan diberi nama.”
      (Riwayat Abu Daud)

    Hukum terkait Aqiqah: Melakukan ‘aqiqah ialah sunnah mu’akkadah bagi orang yang menanggung sara hidup kanak-kanak tersebut. Jika anak itu lelaki disunatkan menyembelih dua ekor kambing, manakala jika anak itu perempuan disunatkan menyembelih seekor kambing. Binatang seperti lembu, kerbau atau unta boleh disamakan kepada tujuh ekor kambing seperti Qurban.

    Waktu Pelaksanaan Aqiqah:

    •  Para ulama berpendapat dan sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ketujuh dari hari kelahirannya. Namun mereka berselisih pendapat tentang bolehnya melaksanakan aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudahnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh berkata dalam kitabnya “Fathul Bari" yaitu: “Sabda Rasulullah pada perkataan ‘pada hari ketujuh kelahirannya’ (hadist no.2 dan 3), ini sebagai dalil bagi orang yang berpendapat bahwa waktu aqiqah itu adanya pada hari ketujuh dan orang yang melaksanakannya sebelum hari ketujuh berarti tidak melaksanakan aqiqah tepat pada waktunya. bahwasannya syariat aqiqah akan gugur setelah lewat hari ketujuh. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Beliau berkata : “Kalau bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya.”
    • Adapun hujjah tentang pendapat yang diutarakan oleh Ustad Shidiq yaitu tentang bolehnya Aqiqah pada hari hari kelipatan 7 dan bebas setelah 21 hari, saya(penulis) belum pernah menemuinya.
    • Dan juga Hadist yang membolehkanya Aqiqah sebelum Hari Ke 7 dan adanya Aqiqah Pada bayi yang keguguran/mati sebelum dilahirkanya ke dunia, penulis juga belum pernah menemuinya.




    sampailah kita pada akhir inti tulisan ini, yaitu tentang persamaan antara Qurban dan Aqiqah.


    Persamaanya yaitu:

    • sama sama menyembelih binatang yang diniatkan ibadah karena Allah
    • hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat diutamakan/ditekankan
    • disunnah kan membagi bagikan daging sembelihan kepada kerabat dan orang dekat.  

    Perbedaanya yaitu:

    • Aqiqah dilaksanakan pada hari ke 7 kelahiran, sedangkan Qurban dilaksanakan pada hari ke 10 bulan dzulhijjah, boleh juga hari yang ke 11, 12, 13. dan tidak dianggap Qurban selain dari hari hari tersebut
    •  Aqiqah ditunaikan sebagai penebus atas lahirnya seorang bayi manusia, sedangkan berkurban adakah untuk memperingati Nabi Ibrahim As, yang itu ditetapkan Oleh Rosulullah SAW sebagai sunnah yan diteruskan kepada Ummatnya.
    • pada sembelihan Qurban, diutamakan membagi bagikanya kepada fakir miskin, dan pada sembelihan Aqiqah tidaklah ditetapkan kepada siapa dia diberikan, boleh kepada orang kaya maupun miskin.
    • dianjurkan untuk membagikan daging dalam keadaan mentah pada sembelihan Qurban dan membagikan daging dalam bentuk matang pada sembelihan Aqiqah
    • Dilarang mengambil upah penyembelih dari bagian hewan yang dipotong pada Qurban dan dibolehkan memberi upah kepada penyembelih dengan bagian hewan yang dipotong pada Aqiqah
    • boleh memilih/wajib mukhayyar pada hewan Qurban, yaitu boleh kambing, sapi, atau pun onta, sedangkan pada Aqiqah maka hewan qurban Wajib kambing.




    itulah apa yang saya tahu dan saya tuiskan supaya saudara semuanya tahu apa yang saya tahu. dan apabila ada yang kurang dalam tulisan saya, tolong dilengkapi dengan meninggalkan koment di bawah. :)

2 komentar:

  1. akikah dgn hewan kambing tidak diwajibkan,boleh juga dengan sapi/onta.yaitu jika 1sapi/onta jika melihat dari jenis kelamin ,1sapi/onta=3laki-laki/pr,jika melihat secara umum 1sapi/onta=7orang(boleh campur laki-laki pr ./pr smua/laki-laki semua)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya belum tahu kalau ada dalil yang mengatakan demikian, kalau untuk berkurban sih iya.. tapi kalau saudara mengetahui boleh lah di share kan disini,

      yang saya tahu dalilnya yaitu pertama mengatakan bahwa anjuran untuk menyembelih hewan pada tiap kelahiran (dalil itu sifatnya muthlak, yaitu boleh menyembelih apa saja, sekaligus sebagai dalil umum, yaitu tiap kelahiran anak tanpa melihat jenis kelamin anak tsb.

      dan dalil kedua yang berkata bahwa anjuran untuk menyembelih 2 kambing untuk anak lelaki dan 1 kambing untuk anak perempuan (saya memaknainya sebagai dalil muqayyad, yaitu membatasi hewan yang digunakan dalam aqiqah hanyalah kambing, sekaligus dalil yang bersifat khusus, yaitu 2 kambing untuk lelaki dan 1 kambing untuk anak perempuan)

      maaf kalau dalam pengambilan hukumnya saya salah atau kekurangan dalil. !!

      Hapus